Barang Bajakan Antara Kebutuhan Dan Kemampuan

Black In News. Di Indonesia sangatlah mudah untuk mendapatkan pirate stuff atau barang bajakan. Baik itu berupa software, dvd, fashion, buku, ataupun mp3. Biasanya disediakan di tempat umum seperti tempat perbelanjaan, mall ataupun di pinggiran jalan. Atau yang lebih simplenya disediakan secara gratis di situs – situs tertentu di internet. Indonesia terkenal sebagai salah satu pengguna barang bajakan terbesar di dunia. Bayangin aja, software 3ds Max terbaru dengan harga senilai lebih $ 4.000 di Amerika hanya di jual Rp. 20.000 di Indonesia. Film yang baru rilis aja macam Avatar, My Name Is Khan, Final Destination 4, dan yang lainnya sudah banyak beredar DVD bajakannya di Indonesia yang dijual hanya Rp. 5000/Keping. Stasiun TV swasta Indosiar, RCTI, dan Global TV yang mengeluarkan uang hampir $ 1 M untuk biaya film anime per episode seperti Naruto, Doraemon, Avatar The Legend Of Aang, dan Spongebob Squarepants dengan mudah bisa di unduh di situs – situs tertentu dengan kualitas video sama dengan aslinya.

Sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Hal ini tentunya melanggar undang – undang. Tapi, bagi sebagian besar orang berpendapat bahwa bangsa ini tidak akan bisa berkembang kalau mengharapkan software yang digunakan itu asli. Sebagian besar dari masyarakat tidak sanggup untuk membeli software yang sangat mahal. Apakah OS yang anda gunakan sekarang merupakan software asli? Apakah software yang anda install di komputer anda itu asli atau hanya hasil crack? Apakah lagu yang anda dengar merupakan lagu yang anda beli secara legal di pasaran atau hanya download gratisan? Untuk menjadi desainer yang handal anda harus menggunakan software semacam 3ds Max, Autocad, Maya, Corel Draw, Adobe illustrator, dan Photoshop yang harganya tidak murah. Untuk menjadi editor film anda harus memiliki software semacam Ulead Video, Adobe Premier, dan After Effect yang harganya selangit. Untuk makan sehari saja susah, apalagi membeli software yang harganya mahal. Bagaimana bangsa Indonesia bisa maju?

Inisiatif barang bajakan inilah yang kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa tempuh. Membeli dan menggunakan barang bajakan. Mereka sadar hal tersebut melanggar hukum. Tapi, kebanyakan dari mereka menganggap hal ini merupakan inovasi, kebutuhan, dan bentuk protes terhadap kaum kapitalis yang mengambil untung sebesar – besarnya tanpa memikirkan nasib orang di bawahnya. Kenyataan ini bukan hanya terjadi pada pelajar dan mahasiswa saja, malah kebanyakan institusi pendidikan dan pemerintahan yang masih menggunakan piranti lunak bajakan. Apakah memang bangsa ini bangsa pembajak? Hal in tergantung bagaimana sobat Black Community menyikapinya. Mudah – mudahan dengan adanya Black Innovation Awards bangsa Indonesia bisa termotivasi untuk berkarya.

Share this Post:
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

No Responses to “Barang Bajakan Antara Kebutuhan Dan Kemampuan”

Leave a Reply:

Leave Your Comment Here And Do Not Forget Include Your Link